^^

Terimakasih atas kunjungannya^^ Semoga harimu selalu dipenuhi dengan kesenangan dan keberkahan. Sudahkah anda bersyukur untuk hari ini??

Ads Here

Rabu, 22 April 2026

Membangun Menara Cinta


Membangun cinta ternyata bukan perkara mudah, terlebih yang membangunnya hanyalah dia orang insan biasa yang tak sengaja mengikat janji kepada TuhanNya untuk selalu bersama dalam suka maupun duka.

Dalam suka, cinta mudah tumbuh merekah, menenggelamkan rasa gemuruh di dada dalam dekapan hangat sebuah rasa. 
Namun dalam suka, cinta justru dibentuk oleh benturan sajak mawar yang nampak indah padahal berduri dan menyakitkan saat digenggam.

Ialah cinta, yang tak hanya pasif menerima, namun juga aktif membangun meski tak punya apa-apa. 
Ialah cinta, saat kau bertahan bersama kekurangan dan menjadikannya pijakan bertumbuh bersama. 
Ialah cinta, ketika salah satu yang tau jalan, mulai membangun strategi mengajak partnernya agar berjuang di jalan yang benar menurutnya. 
Ialah cinta, saat dia insan beda kepala menginginkan hal berbeda namun harus berkompromi satu sama lainnya. 
Ialah cinta, yang tetap tersenyum bak raja dan ratu diantara gerutu yang tak tentu. 
Ialah cinta, saat dua insan tak dapat saling meninggalkan hanya karena tak sepaham. 
Ialah cinta, ketika dua insan sadar, pengorbanan yang ia lakukan, semata persembahan untuk TuhanNya. 
Ialah cinta, yang menunjukkan jalan ketenangan, jalan kembali pada RabbNya yang penuh keajaiban. 

Apakah arti cinta bagimu tuan? 

Jumat, 10 April 2026

Kisah Sang Kapten


Mari kita mulai hari ini dengan obrolan tentang berpasangan. Dalam hidup semua hal ada pasangannya, rasa takut berpasangan dengan keberanian, rasa ragu berpasangan dengan keyakinan, lalu apa pasangan rasa khawatir? Apakah berani ataukah percaya diri?. 
Mari menapakinya dimulai dari tangga cerita. 

Seorang kapten kapal diberi tugas mengemudikan kapalnya untuk menuju ke sebuah pulau yang dia tidak begitu kenali, peta yang dia dapatkan pun samar dan petunjuk-petunjuk yang ada di peta tersebut masih sulit dipahami oleh sang kapten. 
Sang kapten bertanya pada kapten lainnya, namun jawaban yang ia dapatkan adalah sama, kerjakan saja tugas yang diberikan, jika terasa sulit maka belajarlah untuk memahami dan mencari jalan keluarnya. 

Tak puas dengan jawaban dari kapten lainnya, ia pun merasa dirinya tak pantas menerima tugas tersebut. 
Suatu hari Sang kapten melihat peta yang dipegang oleh kapten lainnya dan melihat bahwa kapten lain pun diberikan peta yang sama, peta yang samar dengan legenda yang susah dipahami pula, namun kapten lain fokus untuk menyelesaikan misi tersebut hingga tuntas dan akhirnya berhasil menggapai pulau yang dimaksud walau dengan segala rintangan. 

Kini, Sang kapten kita sedang berusaha memperjelas peta ke pulau tujuan, kini ia berpikir jika legenda tidak jelas, maka dia yang tentukan legendanya, jika peta nya samar, maka ia berhenti mengeluh dan fokus pada tujuan. Sesekali berat dan ingin menyerah, tapi dia tau bahwa di kapal ini dialah kaptennya, dan dia tidak sendirian. 

Tamat

Rabu, 11 Maret 2026

Ibadah terpanjang itu bukan pernikahan tapi ternyata 'Belajar'


Seseorang menyadarkanku bahwa "Ibadah terpanjang itu bukan 'pernikahan' tapi 'belajar' "


Gelisah tak Berujung? Mungkin Allah sedang Panggil Kamu, tapi Kamu Reject terus panggilannya


Engga tau, rasanya gak jelas, ga terdefinisikan, mungkin karena terlalu bodoh? Jadi engga bisa mendeskripsikan perasaan apakah ini. 

Seperti gegana, gelisah galau merana, padahal engga ada masalah urgent yang kelihatan di mata, semua terasa cukup, tapi hilang arti. 

Yang terasa hanyalah kumpulan rasa bersalah yang ada hentinya. 

Lalu hati terus berbisik, sepertinya aku bukan orang baik, aku ga setulus orang lain, aku bukan orang yg peka, aku gak dibutuhin org lain, keknya dunia ini baik2 aja tanpa aku, apa gunanya? dan label buruk lainnya. 

Aduh.. Bahaya! 
Kehilangan motivasi dalam diri sebagai orang dewasa itu sebuah alarm, ada yang sedang tidak beres dalam jiwa. 
Perlu berbenah, namun tak tahu harus darimana. 
Perlu bicara namun tak tahu apa yang akan dibicarakan. 

Apakah waktunya ke profesional? 
Pun tak punya jawaban. 

[Ternyata] Main Sosmed itu bukan untuk Semua Orang

Hai.. Aku disini, menuliskan apa2 yg mungkin tak kau baca. 

Sosmed. Ya! 
Tempat semua orang bisa memberikan informasi, tempat semua orang bisa komentar, tempat semua orang bisa interaksi tanpa harus kenal sana sini. 

Hari ini, aku mendapat pelajaran sangat berharga tentang bermain sosmed. Pelajarannya:
1. Ketika kita share cerita, engga semua orang paham konteks, dan mereka bisa aja kirim komentar di luar konteks ceritamu, pelajarannya: gak usah ditanggapi, mereka emang pengen komentar aja walau tanpa data, karena toh gak kenal ini. 

2. Pelajari fiturnya, jangan sampai salah pakai fitur. Maksud hati ingin ngerepost komentar di atas komentar, eh malah yang di quotes komentar yang berlawanan, salah share bahaya nanti. 

3. Pahami, info yang disajikan kepada kita itu berdasar algoritma yg sering kita cari tau, maka.. Kalau di dunia nyata, engga semua org mengonsumsi info yang sama karena beda orang beda algoritma (bubble theory). 

4. Gausah diserius2i orang-orang yang komentar kalau kita ga kenal di dunia nyata, karena semua orang bisa jadi siapapun di dunia maya. 

5. Buat yang cari tenang/org yg gampang ovt, sosmed dengan segala distraksinya bisa ngambil energi kamu banyak2, so.. Seperlunya saja ya. 

6. Di sosmedmu, bisa jadi banyak huru-hara, tapi sadarilah dan kembali ke dunia nyata dan kau akan melihat bahwa kita masih baik-baik saja. Anggaplah sosmed itu hanya jendela kecil, ia digunakan untuk mengintip dunia yang mungkin tak bisa kita jamah langsung karena terhalang kaca, dan dunia nyata tetap jadi pintu utama ketika kita akan mengharap sebuah perubahan. Apakah sosmed bisa jadi tempat perubahan? Tentu bisa, tapi pastikan kamu sudah pelajari toolsnya dengan baik, kalau masih jadi penikmat dan pemain biasa, lebih baik mundur sebentar, buka pintu utama dan hiduplah udara segar. 

Dan.. Sebagai konklusi untuk judul hari ini, ya.. Sosmed tidak untuk semua orang, tidak untuk org2 yg gampang baper/ovt, karena kalo salah share bisa dosa jariyah, salah komen bisa nyakitin org lain. Be wise.. 

Bertahun-tahun main sosmed, akhirnya blogging juga haha. Sekian. 

Minggu, 06 April 2025

Proses Menerima sebuah Penolakan


Suatu hari, hiduplah seorang perempuan yang sudah menjadi yatim sejak usia kecilnya.
Ia lahir dalam keluarga yang sangat harmonis (dalam standarnya). 

Namun, seperti pada umumnya, tidaklah sebuah keluarga itu sempurna, pasti ada saja 'keunikan karakter' yang menjadi bumbu roller coaster sebuah keluarga. 

Tibalah saat usianya dewasa, ia akan melangkah pada jenjang pernikahan.
Selama ini, ia dididik untuk selalu mandiri dan mengetahui segala proses dalam hidupnya. 
Meski berat, ia selalu berusaha menerima dengan lapang hati segala bentuk pendidikan keluarganya.

Namun, di hari ini, tangisnya pecah, sungguh tak tertahankan, tak terkatakan, hanya tangisan yang tampil, sambil segala renungan berkelinang di dalam kepalanya, tak sanggup ia mengeluh, pun tak merasa pantas untuk mengadu. Tangisan yang dalam, itu saja yang dapat ia tampilkan. Meskipun tak berdampak apa-apa pada keputusannya.

Tangisan itu dimulai ketika ia mulai berbicara pada kakak laki2 tertua, meminta agar kakaknya menjadi wali di pernikahannya nanti, itu saja, tidak lebih. 
Namun, sang kakak tidak menyanggupi permintaan tersebut, ia menolak dan menyarankan untuk diwakilkan pada wali hakim ataupun paman saja. 
Sang adik, meyakinkan, bahwa kali ini sang kakak akan mampu menjadi wali, namun sang kakak tetap pada pendiriannya, ia berkata tidak bisa!. Sang adik tak menyerah, meyakinkan kembali, sesekali bercanda mengajaknya berlatih membaca teks akad. Namun, lagi dan lagi sang kakak menolak permintaannya dan memohon maaf akan ketidaksanggupannya.

Sang adik menahan tangis lalu berkata "Ayolah, anggap saja latihan sebelum nanti menikahkan anak perempuanmu"
Dan sang kakak menjawab 
"Ya, kalau untuk anak saya, saya pastikan bisa"
Sang adik tak sanggup menahan buliran-buliran air pada matanya yang tertahan. 
Pecah..
Untuk pertama kalinya, ia menangis sejadinya di depan kakaknya.
"Saya sudah tidak memiliki ayah, saya hanya ingin Anda jadi wali saya, Anda kakak laki laki tertua saya, wali utama, apa tidak mau berusaha?" Tanyanya penuh gemetar.
"Tidak. Maaf, saya harus jujur, saya tidak bisa, silahkan minta kepada yang lain" jawab sang kakak.
Sang adik pun tak dapat berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa menangis, tidak ada lagi bendungan, semua pecah, setelah sekian tahun tertahan.

Dalam pikirannya terngiang banyak hal, ia membiarkan sambil menimang, dan memilah mana rasa yang haus validasi, mana rasa yang hadir dari ego pribadi.

Ia ingin sekali menuliskan kecamuk pikirannya, mari kita dengarkan:

"Kehadiranku emang gak penting sih, selama ini engga ada juga yang prioritasin"
"Aku emang gak layak diperjuangin, emang apa kontribusi aku dihidupnya?"
"Aku kan meminta, kenapa jadi kecewa ketika engga dikabulkan? Harusnya biasa aja, kecuali aku bukan minta, tapi maksa"
"Aku capek yaAllah ngertiin pikiran orang2 yang lebih dewasa dibanding aku, aku pengen juga dong dingertiin"
"Aku cuma minta Anda jadi wali, aku engga minta Dana, aku gak minta apa2, cuma pengen Anda jadi wali, kenapa susah?"
"Kalau untuk anakmu kau berkata bisa, kenapa untuk adik perempuanmu kau katakan tak bisa? Emang gak ada artinya sih, adikmu yang satu ini"
"Emang gak ada niat banget buat berubah, ini adiknya yang terakhir loh! Engga mau mencoba berubah?"
"Aku se -engga ada- itu ya?"

Pikirannya semakin menanyakan hal-hal yang jauh, berkelana, menelisik diri, apa yang sebenarnya terjadi?

Sederhana.

Adik meminta kakak laki2 tertua, untuk menjadi walinya, karena dia percaya kakaknya bisa, meskipun pada kasus2 anak perempuan di keluarganya selalu berakhir diwakilkan. 
Sang adik menaruh harap, kakaknya akan berusaha untuk dirinya. 
Namun, ternyata sama. Tidak ada itikad untuk hal itu. 

Sang adik menyadari, ternyata ia kecewa oleh harapannya sendiri. 
Ia belajar, bahwa jika meminta, maka harus siap untuk segala responnya baik diterima ataupun ditolak. Malam itu ia kalah oleh perasaannya sendiri, perasaan yang valid namun tidak menjadi fakta dalam realita. 
Perasaan tidak dianggap, itu valid
Perasaan tidak dicintai, itu valid
Perasaan tidak diinginkan, itu valid
Perasaan tidak diperjuangkan, itu valid
Perasaan diabaikan dan dilupakan, itu valid,

Itu yang ia rasakan pada keadaan yang sedang ia alami.
Meski, jika ditilik realitanya, perasaan tadi hanya sekedar perasaan dan prasangka semata , pada realitanya, mungkin saja, kakaknya:
1. Menginginkan yang terbaik untuk adiknya, ia pun mengukur kemampuan dirinya dan ia tidak percaya diri memenuhi permintaan sang adik.

2. 





Kamis, 03 April 2025

Sebuah memoriam meredam kemarahan

Dengan tanpa melepas proses intropeksi diri, kutuliskan kritik ini untuk diri kita sebagai WNI juga untuk para pemangku kebijakan yang bertanggung jawab atas hajat rakyatnya.

Dunia hari ini, tidak baik-baik saja, yang mengatakan baik-baik saja, fix buzzer pemerintah, atau kalau cuma ikut2an biar dipandang positive mindset/vibes, sorry bos, Anda salah tempat dan situasi.

Capek banget aku tuh liatin berita2,
Udah kayak mau engga nulis aja, soalnya emang ini akan berdampak apa? Tapi biarlah, tetap kutuliskan biar benang ruwet di kepala ini setidaknya terurai melalui rentetan huruf2nya.

Rasanya mau marah, tapi ya gimana, situasi ini tuh udah bisa kita bayangkan. Udah bisa ketebak banget gitu lo dari jaman pilpres, makannya kita pilih berjuang dengan 01 (iya, penulis anak abah, iya!) bukan membandingkan, tapi orang waras ga mungkin pilih 02 sih, kecuali engga bener2 peduli sama program2 untuk kemajuan negara. Bukan apa2, sesuatu yang dicapai dengan cara yang tidak jujur/Maksain prosedur, hanya akan menambah ketidakjujuran lain di masa mendatang, masak hal kecil kayak gini mesti bohong sih?. 

Jadi, klo sekarang ada kebijakan yg aneh2 ya udah gak aneh, wong dari awal pencalonan juga caranya udah aneh, program2nya aneh2, mamam tuh program utopis. Engga, engga lagi bikin tulisan kritik dengan mencantumkan referensi, engga lagi tulis kritik yang serius, hanya ingin menuliskan kegundahan di kepala yang makin berat kalau hanya dipikir sendirian.

Fyuuuhh ...
Tarik nafas... Buang nafas,
Kita nih dosa apa ya? Ya iya tau dosa kita banyak, banyakkkkkkkk bgt, sampai susah buat lihat, apa ya dosa yang kita perbuat sampai kita dikasih pemimpin yang subhanallah begini. 

Sistem rusak yang lahir di masyarakat yang rusak juga, bagai simbiosis mutualisme dalam menuju kehancuran sebuah entitas negara.

Tobat.. tobat..
Iya! Tobat aja yang bisa kita lakukan, belajar memperbaiki diri, biar doanya bisa melesat, engga tercekat oleh maksiat yang melekat, makannya tobat ih! T.T
Astaghfirullah...

Pada intinya, Salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai warga negara yang baik adalah, berusaha menjadi hambaNya yang bertakwa, agar amanah dalam setiap urusan dari Hal kecil sampai Hal besar. 

Dengan begitu, semoga Allah pandang kita sebagai orang yang pantas dipimpin oleh yang bertakwa, yang takut sama Allah aja, bukan takut sama 'budi' dari para oligarki.

Satu langkah kecil usaha takwamu kepadaNya, mudah-mudahan jadi pijakan kecil untuk menyongsong Indonesia jadi Baldatun Thayyibah wa Rabbun Ghafur. 

Meski jauh mata memandang dari kriteria Baldatun Thayyibah ini, sebagai orang beriman, engga boleh pesimis, harus optimis. Selama shalat Masih boleh ditegakkan, selama itu pula kesempatan kita untuk meminta keselamatan negeri ini kepada Allah masih terbuka sangat luas. 

Pun jangan baper banget kalo liat, kok Allah kasih ke orang2 dzalim kekuasaan di dunia sih? Ya karena kalau kata there Liye, kita mesti inget bahwa "nilai Dunia ini tuh gak lebih berharga dari separuh sayap nyamuk!" Makannya, gampang aja Allah kasih dunia ke siapapun yang Dia kehendaki. Okay, sekian dulu.

Jangan menyerah, Allah tidak pernah tidur!



Cari Blog Ini