^^

Terimakasih atas kunjungannya^^ Semoga harimu selalu dipenuhi dengan kesenangan dan keberkahan. Sudahkah anda bersyukur untuk hari ini??

Ads Here

Senin, 25 Mei 2026

Fase Tidak Tahu


Di fase ini, ada seseorang yang merasa tak tau harus apa, harus cerita apa, harus cerita ke siapa dan kemana, bagaimana membahasakannya dengan baik, agar idenya terdengar keluhnya tersampaikan namun tidak mendapatkan cap "Curhat di Sosmed", maka mari uraikan disini saja. 

Ada kisah, seorang istri yang sedang berjauhan dengan suami, kepala dia penuh dengan segala tanya, pikir, ide dan lainnya. 
Suaminya terbuka akan mendengarkan apapun, namun keterbatasan waktu membuat komunikasi yang awalnya intens menjadi lebih banyak kompromi dan mengerti kondisi. 
Ya, jauh disana sang kapten sedang sibuk dengan jihad nafkah materinya, dan di sini seorang istri menahan diri untuk bercerita karena takut membebani pikiran kaptennya. 

Sudut pandang bisa berbeda pun bisa dipilih, apakah menganggap ini bagian dari perjuangan untuk hidup yang lebih baik di masa depan, atau menjadi calon-calon kesalahpahaman atau mungkin bisa juga menjadi celah mencari tempat lainnya untuk menumpahkan segala yang menumpuk di pikirannya (sosmed) misalnya. 

Akhirnya, dia memilih sosmed tergelap dan terasing agar jauh dari pantauan publik, sosmed yang mungkin tidak bisa dibilang sosmed, mari menyebutnya privatemed. 

Ya.. Pada akhirnya, mari berdamai dengan segala lika liku LDM yang akan usai pada waktunya nanti. 
Perbanyak sabar, hudznuzhan, doa yang baik-baik, dan jadikanlah Allah satu2nya tempatmu bercerita, tegar ya. 


Senin, 11 Mei 2026

Pergulatan Waktu


Tak semua sedih berawal dari rasa kecewa dan hal tak mengenakan, namun kebanyakan berawal dari ekspektasi yang ketinggian. 

Jarak ini sungguh membawa pilu di hati, tak terhitung jumlah bulir air mata yang jatuh karena banyak pesan yang tak tersampaikan tepat pada waktunya. 

Hal-hal berlalu, tanpa ada yang peduli cerita dibaliknya. 

Huh! YaRabb, kuatkan ya. 

Kamis, 07 Mei 2026

Kaidah: Apa yang belum kita miliki akan nampak Lebih Indah


"Apa apa yang Allah tetapkan untukmu, maka pasti akan datang untukmu dalam keadaan apapun"

Rezeki, jodoh, kematian merupakan ketetapan yang pasti dari Allah. Ada kalanya ketetapan itu seperti tak sesuai dengan hati. Namun, Allah mengingatkan kita bahwa "Apa yang menurutmu baik belum tentu baik untukmu dan apa yang menurutmu buruk belum tentu buruk bagimu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, dan kamu tidak mengetahui".

Jika sekarang dirimu mulai merasa banyak kekurangan yang kau miliki, banyak cobaan yang kau hadapi, maka sesungguhnya masih banyak cobaan lain menunggumu di depan. 

Siap ya. 

Rabu, 22 April 2026

Membangun Menara Cinta


Membangun cinta ternyata bukan perkara mudah, terlebih yang membangunnya hanyalah dua insan biasa yang mengikat janji kepada TuhanNya untuk selalu bersama dalam suka maupun duka.

Dalam suka, cinta mudah tumbuh merekah, menenggelamkan rasa gemuruh di dada dalam dekapan hangat sebuah rasa. 
Namun dalam suka, cinta justru dibentuk oleh benturan sajak mawar yang nampak indah padahal berduri dan menyakitkan saat digenggam.

Ialah cinta, yang tak hanya pasif menerima, namun juga aktif membangun meski tak punya apa-apa. 
Ialah cinta, saat kau bertahan bersama kekurangan dan menjadikannya pijakan bertumbuh bersama. 
Ialah cinta, ketika salah satu yang tau jalan, mulai membangun strategi mengajak pasangannya agar berjuang di jalan yang benar menurut-Nya. 
Ialah cinta, saat dua insan beda kepala menginginkan hal berbeda namun harus berkompromi satu sama lainnya. 
Ialah cinta, yang tetap tersenyum bak raja dan ratu diantara gerutu yang tak tentu. 
Ialah cinta, saat dua insan tak dapat saling meninggalkan hanya karena tak sepaham. 
Ialah cinta, ketika dua insan sadar, pengorbanan yang ia lakukan, semata persembahan untuk TuhanNya. 
Ialah cinta, yang menunjukkan jalan ketenangan, jalan kembali pada RabbNya yang penuh keajaiban. 

Apakah arti cinta bagimu tuan? 

Jumat, 10 April 2026

Kisah Sang Kapten


Mari kita mulai hari ini dengan obrolan tentang berpasangan. Dalam hidup semua hal ada pasangannya, rasa takut berpasangan dengan keberanian, rasa ragu berpasangan dengan keyakinan, lalu apa pasangan rasa khawatir? Apakah berani ataukah percaya diri?. 
Mari menapakinya dimulai dari tangga cerita. 

Seorang kapten kapal diberi tugas mengemudikan kapalnya untuk menuju ke sebuah pulau yang dia tidak begitu kenali, peta yang dia dapatkan pun samar dan petunjuk-petunjuk yang ada di peta tersebut masih sulit dipahami oleh sang kapten. 
Sang kapten bertanya pada kapten lainnya, namun jawaban yang ia dapatkan adalah sama, kerjakan saja tugas yang diberikan, jika terasa sulit maka belajarlah untuk memahami dan mencari jalan keluarnya. 

Tak puas dengan jawaban dari kapten lainnya, ia pun merasa dirinya tak pantas menerima tugas tersebut. 
Suatu hari Sang kapten melihat peta yang dipegang oleh kapten lainnya dan melihat bahwa kapten lain pun diberikan peta yang sama, peta yang samar dengan legenda yang susah dipahami pula, namun kapten lain fokus untuk menyelesaikan misi tersebut hingga tuntas dan akhirnya berhasil menggapai pulau yang dimaksud walau dengan segala rintangan. 

Kini, Sang kapten kita sedang berusaha memperjelas peta ke pulau tujuan, kini ia berpikir jika legenda tidak jelas, maka dia yang tentukan legendanya, jika peta nya samar, maka ia berhenti mengeluh dan fokus pada tujuan. Sesekali berat dan ingin menyerah, tapi dia tau bahwa di kapal ini dialah kaptennya, dan dia tidak sendirian. 

Tamat

Rabu, 11 Maret 2026

Ibadah terpanjang itu bukan pernikahan tapi ternyata 'Belajar'


Seseorang menyadarkanku bahwa "Ibadah terpanjang itu bukan 'pernikahan' tapi 'belajar' "


Gelisah tak Berujung? Mungkin Allah sedang Panggil Kamu, tapi Kamu Reject terus panggilannya


Engga tau, rasanya gak jelas, ga terdefinisikan, mungkin karena terlalu bodoh? Jadi engga bisa mendeskripsikan perasaan apakah ini. 

Seperti gegana, gelisah galau merana, padahal engga ada masalah urgent yang kelihatan di mata, semua terasa cukup, tapi hilang arti, hampa makna. 

Yang terasa hanyalah kumpulan rasa bersalah yang tiada hentinya. 

Lalu hati terus berbisik, sepertinya aku bukan orang baik, aku ga setulus orang lain, aku bukan orang yg peka, aku gak dibutuhin org lain, keknya dunia ini baik2 aja tanpa aku, apa gunanya? dan label buruk lainnya. 

Aduh.. Bahaya! 
Kehilangan motivasi dalam diri sebagai orang dewasa itu sebuah alarm, ada yang sedang tidak beres dalam jiwa. 
Perlu berbenah, namun tak tahu harus darimana. 
Perlu bicara namun tak tahu apa yang akan dibicarakan. 

Apakah waktunya ke profesional? 
Pun tak punya jawaban. 

[Ternyata] Main Sosmed itu bukan untuk Semua Orang

Hai.. Aku disini, menuliskan apa2 yg mungkin tak kau baca. 

Sosmed. Ya! 
Tempat semua orang bisa memberikan informasi, tempat semua orang bisa komentar, tempat semua orang bisa interaksi tanpa harus kenal sana sini. 

Hari ini, aku mendapat pelajaran sangat berharga tentang bermain sosmed. Pelajarannya:
1. Ketika kita share cerita, engga semua orang paham konteks, dan mereka bisa aja kirim komentar di luar konteks ceritamu, pelajarannya: gak usah ditanggapi, mereka emang pengen komentar aja walau tanpa data, karena toh gak kenal ini. 

2. Pelajari fiturnya, jangan sampai salah pakai fitur. Maksud hati ingin ngerepost komentar di atas komentar, eh malah yang di quotes komentar yang berlawanan, salah share bahaya nanti. 

3. Pahami, info yang disajikan kepada kita itu berdasar algoritma yg sering kita cari tau, maka.. Kalau di dunia nyata, engga semua org mengonsumsi info yang sama karena beda orang beda algoritma (bubble theory). 

4. Gausah diserius2i orang-orang yang komentar kalau kita ga kenal di dunia nyata, karena semua orang bisa jadi siapapun di dunia maya. 

5. Buat yang cari tenang/org yg gampang ovt, sosmed dengan segala distraksinya bisa ngambil energi kamu banyak2, so.. Seperlunya saja ya. 

6. Di sosmedmu, bisa jadi banyak huru-hara, tapi sadarilah dan kembali ke dunia nyata dan kau akan melihat bahwa kita masih baik-baik saja. Anggaplah sosmed itu hanya jendela kecil, ia digunakan untuk mengintip dunia yang mungkin tak bisa kita jamah langsung karena terhalang kaca, dan dunia nyata tetap jadi pintu utama ketika kita akan mengharap sebuah perubahan. Apakah sosmed bisa jadi tempat perubahan? Tentu bisa, tapi pastikan kamu sudah pelajari toolsnya dengan baik, kalau masih jadi penikmat dan pemain biasa, lebih baik mundur sebentar, buka pintu utama dan hiduplah udara segar. 

Dan.. Sebagai konklusi untuk judul hari ini, ya.. Sosmed tidak untuk semua orang, tidak untuk org2 yg gampang baper/ovt, karena kalo salah share bisa dosa jariyah, salah komen bisa nyakitin org lain. Be wise.. 

Bertahun-tahun main sosmed, akhirnya blogging juga haha. Sekian. 

Minggu, 06 April 2025

Proses Menerima sebuah Penolakan


Suatu hari, hiduplah seorang perempuan yang sudah menjadi yatim sejak usia kecilnya.
Ia lahir dalam keluarga yang sangat harmonis (dalam standarnya). 

Namun, seperti pada umumnya, tidaklah sebuah keluarga itu sempurna, pasti ada saja 'keunikan karakter' yang menjadi bumbu roller coaster sebuah keluarga. 

Tibalah saat usianya dewasa, ia akan melangkah pada jenjang pernikahan.
Selama ini, ia dididik untuk selalu mandiri dan mengetahui segala proses dalam hidupnya. 
Meski berat, ia selalu berusaha menerima dengan lapang hati segala bentuk pendidikan keluarganya.

Namun, di hari ini, tangisnya pecah, sungguh tak tertahankan, tak terkatakan, hanya tangisan yang tampil, sambil segala renungan berkelinang di dalam kepalanya, tak sanggup ia mengeluh, pun tak merasa pantas untuk mengadu. Tangisan yang dalam, itu saja yang dapat ia tampilkan. Meskipun tak berdampak apa-apa pada keputusannya.

Tangisan itu dimulai ketika ia mulai berbicara pada kakak laki2 tertua, meminta agar kakaknya menjadi wali di pernikahannya nanti, itu saja, tidak lebih. 
Namun, sang kakak tidak menyanggupi permintaan tersebut, ia menolak dan menyarankan untuk diwakilkan pada wali hakim ataupun paman saja. 
Sang adik, meyakinkan, bahwa kali ini sang kakak akan mampu menjadi wali, namun sang kakak tetap pada pendiriannya, ia berkata tidak bisa!. Sang adik tak menyerah, meyakinkan kembali, sesekali bercanda mengajaknya berlatih membaca teks akad. Namun, lagi dan lagi sang kakak menolak permintaannya dan memohon maaf akan ketidaksanggupannya.

Sang adik menahan tangis lalu berkata "Ayolah, anggap saja latihan sebelum nanti menikahkan anak perempuanmu"
Dan sang kakak menjawab 
"Ya, kalau untuk anak saya, saya pastikan bisa"
Sang adik tak sanggup menahan buliran-buliran air pada matanya yang tertahan. 
Pecah..
Untuk pertama kalinya, ia menangis sejadinya di depan kakaknya.
"Saya sudah tidak memiliki ayah, saya hanya ingin Anda jadi wali saya, Anda kakak laki laki tertua saya, wali utama, apa tidak mau berusaha?" Tanyanya penuh gemetar.
"Tidak. Maaf, saya harus jujur, saya tidak bisa, silahkan minta kepada yang lain" jawab sang kakak.
Sang adik pun tak dapat berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa menangis, tidak ada lagi bendungan, semua pecah, setelah sekian tahun tertahan.

Dalam pikirannya terngiang banyak hal, ia membiarkan sambil menimang, dan memilah mana rasa yang haus validasi, mana rasa yang hadir dari ego pribadi.

Ia ingin sekali menuliskan kecamuk pikirannya, mari kita dengarkan:

"Kehadiranku emang gak penting sih, selama ini engga ada juga yang prioritasin"
"Aku emang gak layak diperjuangin, emang apa kontribusi aku dihidupnya?"
"Aku kan meminta, kenapa jadi kecewa ketika engga dikabulkan? Harusnya biasa aja, kecuali aku bukan minta, tapi maksa"
"Aku capek yaAllah ngertiin pikiran orang2 yang lebih dewasa dibanding aku, aku pengen juga dong dingertiin"
"Aku cuma minta Anda jadi wali, aku engga minta Dana, aku gak minta apa2, cuma pengen Anda jadi wali, kenapa susah?"
"Kalau untuk anakmu kau berkata bisa, kenapa untuk adik perempuanmu kau katakan tak bisa? Emang gak ada artinya sih, adikmu yang satu ini"
"Emang gak ada niat banget buat berubah, ini adiknya yang terakhir loh! Engga mau mencoba berubah?"
"Aku se -engga ada- itu ya?"

Pikirannya semakin menanyakan hal-hal yang jauh, berkelana, menelisik diri, apa yang sebenarnya terjadi?

Sederhana.

Adik meminta kakak laki2 tertua, untuk menjadi walinya, karena dia percaya kakaknya bisa, meskipun pada kasus2 anak perempuan di keluarganya selalu berakhir diwakilkan. 
Sang adik menaruh harap, kakaknya akan berusaha untuk dirinya. 
Namun, ternyata sama. Tidak ada itikad untuk hal itu. 

Sang adik menyadari, ternyata ia kecewa oleh harapannya sendiri. 
Ia belajar, bahwa jika meminta, maka harus siap untuk segala responnya baik diterima ataupun ditolak. Malam itu ia kalah oleh perasaannya sendiri, perasaan yang valid namun tidak menjadi fakta dalam realita. 
Perasaan tidak dianggap, itu valid
Perasaan tidak dicintai, itu valid
Perasaan tidak diinginkan, itu valid
Perasaan tidak diperjuangkan, itu valid
Perasaan diabaikan dan dilupakan, itu valid,

Itu yang ia rasakan pada keadaan yang sedang ia alami.
Meski, jika ditilik realitanya, perasaan tadi hanya sekedar perasaan dan prasangka semata , pada realitanya, mungkin saja, kakaknya:
1. Menginginkan yang terbaik untuk adiknya, ia pun mengukur kemampuan dirinya dan ia tidak percaya diri memenuhi permintaan sang adik.

2. 





Kamis, 03 April 2025

Sebuah memoriam meredam kemarahan

Dengan tanpa melepas proses intropeksi diri, kutuliskan kritik ini untuk diri kita sebagai WNI juga untuk para pemangku kebijakan yang bertanggung jawab atas hajat rakyatnya.

Dunia hari ini, tidak baik-baik saja, yang mengatakan baik-baik saja, fix buzzer pemerintah, atau kalau cuma ikut2an biar dipandang positive mindset/vibes, sorry bos, Anda salah tempat dan situasi.

Capek banget aku tuh liatin berita2,
Udah kayak mau engga nulis aja, soalnya emang ini akan berdampak apa? Tapi biarlah, tetap kutuliskan biar benang ruwet di kepala ini setidaknya terurai melalui rentetan huruf2nya.

Rasanya mau marah, tapi ya gimana, situasi ini tuh udah bisa kita bayangkan. Udah bisa ketebak banget gitu lo dari jaman pilpres, makannya kita pilih berjuang dengan 01 (iya, penulis anak abah, iya!) bukan membandingkan, tapi orang waras ga mungkin pilih 02 sih, kecuali engga bener2 peduli sama program2 untuk kemajuan negara. Bukan apa2, sesuatu yang dicapai dengan cara yang tidak jujur/Maksain prosedur, hanya akan menambah ketidakjujuran lain di masa mendatang, masak hal kecil kayak gini mesti bohong sih?. 

Jadi, klo sekarang ada kebijakan yg aneh2 ya udah gak aneh, wong dari awal pencalonan juga caranya udah aneh, program2nya aneh2, mamam tuh program utopis. Engga, engga lagi bikin tulisan kritik dengan mencantumkan referensi, engga lagi tulis kritik yang serius, hanya ingin menuliskan kegundahan di kepala yang makin berat kalau hanya dipikir sendirian.

Fyuuuhh ...
Tarik nafas... Buang nafas,
Kita nih dosa apa ya? Ya iya tau dosa kita banyak, banyakkkkkkkk bgt, sampai susah buat lihat, apa ya dosa yang kita perbuat sampai kita dikasih pemimpin yang subhanallah begini. 

Sistem rusak yang lahir di masyarakat yang rusak juga, bagai simbiosis mutualisme dalam menuju kehancuran sebuah entitas negara.

Tobat.. tobat..
Iya! Tobat aja yang bisa kita lakukan, belajar memperbaiki diri, biar doanya bisa melesat, engga tercekat oleh maksiat yang melekat, makannya tobat ih! T.T
Astaghfirullah...

Pada intinya, Salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai warga negara yang baik adalah, berusaha menjadi hambaNya yang bertakwa, agar amanah dalam setiap urusan dari Hal kecil sampai Hal besar. 

Dengan begitu, semoga Allah pandang kita sebagai orang yang pantas dipimpin oleh yang bertakwa, yang takut sama Allah aja, bukan takut sama 'budi' dari para oligarki.

Satu langkah kecil usaha takwamu kepadaNya, mudah-mudahan jadi pijakan kecil untuk menyongsong Indonesia jadi Baldatun Thayyibah wa Rabbun Ghafur. 

Meski jauh mata memandang dari kriteria Baldatun Thayyibah ini, sebagai orang beriman, engga boleh pesimis, harus optimis. Selama shalat Masih boleh ditegakkan, selama itu pula kesempatan kita untuk meminta keselamatan negeri ini kepada Allah masih terbuka sangat luas. 

Pun jangan baper banget kalo liat, kok Allah kasih ke orang2 dzalim kekuasaan di dunia sih? Ya karena kalau kata there Liye, kita mesti inget bahwa "nilai Dunia ini tuh gak lebih berharga dari separuh sayap nyamuk!" Makannya, gampang aja Allah kasih dunia ke siapapun yang Dia kehendaki. Okay, sekian dulu.

Jangan menyerah, Allah tidak pernah tidur!



Sabtu, 22 Februari 2025

Di tanggal cantik ini 22-2-25



[Biar jadi arsip ya]

Cung hand, siapa disini yang masih jomblo? 

Saya saya!..
Izinkan diri ini, yang sudah jadi jomblo seperempat Abad 😅 untuk berbagi cerita tentang persiapan diri bertemu jodoh sejati berlandaskan nasehat2 dari para guru serta menyaring pengalaman dari rekan-rekan yang sudah melewati fase jomblo. 
Semoga bermanfaat😁

Dear singlelillah, 
Apakah kita sama, pernah berpikir 
Saya tuh ada jodohnya engga sih? 
bagaimana ya jodoh kita nanti? 
Kapan ya waktunya saya bertemu dengannya? 
Ketemu dimana ya, kan aku engga mau pacaran, emang bakal bisa ketemu?

Hiks hiks hiks.

Daripada galau berjamaah di malam minggu ini, lebih baik kita telisik sama-sama, hal-hal yang bisa kita lakukan selagi menjomblo, agar menjadi _*Jomblo berkualitas yang Allah ridhoi*_ 

Betul apa bener? 😁😁

Menjadi jomblo adalah sebuah privilege loh, privilege untuk bisa fokus bertumbuh dan berkembang seperti yang kita mau. 

Privilege untuk menjadi versi terbaik diri, sebelum nantinya berkolaborasi dengan pasangan sejati. 

Kalau kata _Kang Zein Permana_, jangan lelah untuk upgrade diri, karena secara tidak langsung kita sedang mengupgrade jodoh kita.

Tapi, gimana mulainya?
Apa standar pantasnya?

Sebelum memulai, kita samakan dulu ya persepsi tentang jodoh. Jodoh dalam pengertian luas adalah apa-apa yang Allah takdirkan bertemu dengan kita. Jodoh dalam arti spesifik untuk manusia, artinya seseorang yang Allah takdirkan bersama di dunia, dan bertemu kembali di jannahNya. 

Sebagai orang beriman, tentu standar kita dalam mengartikan jodoh bukan hanya yang bersama di dunia, tapi juga di akhirat. 

Misalkan, kisah antara Asiyah dan Firaun, mereka bersama di dunia, namun nanti di akhirat mereka dipisahkan, yang satu ahli surga yang satu lagi ahli neraka, maka sebenarnya mereka bukanlah jodoh. (Sumber: Ust. Oemar Mita)

Jadi, kalau kita sudah punya jodoh di dunia, perjuangannya belum selesai, karena perjuangan kita baru selesai kalau kita sudah 'kembali bersama di surga'
Wah.. ternyata menjadi tugas panjang ya!.

Iya, itulah mengapa pernikahan adalah ibadah terpanjang, karena bukan saja untuk Dunia tapi untuk akhirat nanti.

Dan perjuangan ini bisa kita mulai dari sekarang, dimulai ketika diri 'masih' sendiri. 

Mulai dari mana?

*1. Niat*
Luruskan niat, mengapa kita harus menikah? Untuk apa kita menikah? Untuk siapa kita menikah?
Tentu muaranya adalah karena *Allah*. 
Implementasi dari lurusnya niat hanya karena Allah harus dimanifestasikan dengan _Cara yang diridhoi Allah_ _Tujuan yang Allah setting_ , Dan pondasi utama dalam meluruskan niat ini adalah beriman pada apa yang Allah telah turunkan sebagai pedoman hidup yakni Al-Qur'an.

*2. Bersuci*
Pernikahan adalah ibadah terpanjang, maka mulailah dengan mensucikan diri agar hati kita mudah menerima petunjuk dan pertolongan yang Allah hadirkan ketika kita membutuhkannya. 
Bersuci dapat dilakukan dengan: muhasabah diri (menyadari kelebihan diri untuk disyukuri dan dimaksimalkan, juga menyadari kekurangan diri untuk dapat diperbaiki), recheck ibadah harian (sudah sesuai pedoman belum?), sedekah untuk menyucikan harta, juga menyambung silaturahim yang baik dengan orang-orang di sekitar kita.

InsyaAllah dengan begitu, hati kita akan lebih tenang dalam proses 'memantaskan diri' sebelum Allah pertemukan dengan jodoh sejati.

*3. Fokus Menjadi bukan Mencari*

Jika kita sibuk mencari yang terbaik tanpa diiringi usaha untuk menjadi yang terbaik, maka yang terjadi adalah kita akan 'tertinggal'. Maka, kalau kata Kang Zein Permana, _"Fokuslah bertumbuh, maka akan dipertemukan"_ karena jodoh itu biasanya bertemu di jalur pertumbuhan, bukan di jalur pencarian. Semoga Allah pertemukan kita dengan pasangan yang sejiwa, seilmu, sesurga ya. Aamiin 💓🫶

*4. Perbaiki sirkel pertemanan*

Jika kita menginginkan berjodoh dengan orang yang shalih, maka perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang shalih/orang-orang yang bersemangat dalam kebaikan. 
Kita tidak mungkin memancing ikan Lele di laut, karena bukan kolamnya. 
Maka, ikhtiarkan untuk mencondongkan hati kita pada sirkel-sirkel kebaikan, agar Allah dekatkan dengan orang-orang yang baik. Karena, sejatinya jiwa-jiwa akan berkumpul dengan yang selaras. InsyaAllah.

*5. Memantaskan diri dengan Amal shalih*

Singlelillah, berdoa meminta jodoh pada Allah itu sejatinya bukan untuk memaksa, tapi untuk meminta. Layaknya peminta, maka pantaskan diri kita untuk diberi yang terbaik oleh Yang Maha Pemberi.
Kita sadari, bahwa Amal shalih yang kita kerjakan tidak berdampak apa-apa untuk Allah, tapi itulah yang bisa kita kerjakan untuk merayu Allah, agar di 'notice' oleh Allah. Jadi, Amal shalih itu kebutuhan kita sebagai hamba.

Bukankah, jika Allah telah mencintai seorang 'Hamba' maka, Allah akan memberitahu seluruh penduduk bumi dan langit untuk ikut mencintai hamba tersebut. 

MasyaAllah ya 🥹🫶 semoga kita memiliki Amal shalih yang senantiasa diusahakan istiqomah untuk meraih cinta Allah, sebelum mencintai hamba Allah.


*6. Belajar-belajar-belajar*

Pernikahan adalah aktivitas seumur hidup, maka belajarnya pun seumur hidup. Jangan lupakan komponen belajar yang penting: Adab-Guru-Sumber belajar. Pelajarilah dengan penuh adab, dan milikilah guru agar ilmu yang didapat utuh serta memiliki tempat bertanya yang ahli ketika nanti dalam praktiknya ada perbedaan, pun perhatikan sumber belajar, pastikan bersumber dari ahlinya.

*7. Berdoa-Berikhtiar-Tawakal*

Tiga Hal diatas harus digandeng terus, kita berdoa untuk meminta dan menenangkan hati, berikhtiar segala cara untuk menunjukkan keseriusan diri, juga tawakal karena menyadari hasil tetaplah di tangan Ilahi. 

Nah, itulah 7 bagian dari Seni memantaskan diri sebelum bertemu jodoh sejati, yang tentu saja saya persingkat, karena waktu yang kian merapat. Xixixi 🤭🤭 

Untuk selanjutnya, bisa diskusi saja ya Jannati. Mari saling rangkul dalam kebaikan, semoga Allah jodohkan kita bertemu kembali di surgaNya nanti.

Pun, yang harus digarisbawahi adalah, pemantasan diri ini sejatinya adalah memantaskan diri untuk menghadap Ilahi. Karena tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali pertemuan denganNya nanti. 🫶🥹🥹💓

Closing statement:

Tenang... Semua ada waktunya, bukan tentang siapa atau kapan, tapi tentang bagaimana cara kita menjemputnya, tugas kita memantaskan diri, biar Allah yang buat skenario terindahnya nanti. Mudah-mudahan kita termasuk pada hamba yang menerima akan segala yang ditetapkan, bila sesuai keinginan kita maka Alhamdulillah, bila tidak maka Alhamdulillah 'ala kulli Hal. pilihanNya pasti yang terbaik, yakin saja, insyaAllah.



Rabu, 12 Februari 2025

Greget

Daripada kepikiran, lebih baik dituliskan, betul?

Seseorang bercerita kepadaku, tentang kebingungan dirinya menghadapi laki-laki yang 'katanya' ingin serius dengannya, namun tidak juga mengurus perceraiannya.

Okay, okay, sepertinya lebih baik kita gambarkan dengan tokoh ya (samaran).
Tokoh kita kali ini:
1. Nama: Mawar
Status: Cerai mati

2. Nama: Sukiman
Status: Cerai hidup

Mawar bercerita, bahwa dia memiliki rencana untuk menikah dengan sukiman, sukiman pun mengiyakannya, 
Namun, status sukiman masih mengawang, secara fisik dia telah berpisah dengan istrinya selama 4 tahun, namun secara catatan negara masih dalam perkawinan yang sah.

Di satu sisi, mawar sudah terburu merasakan nyaman dengan sukiman, karena perhatiannya. Sedangkan sukiman, belum juga tegas mengurus perceraian di pengadilan agama.

Sang mawar bertanya padaku, namun aku mengarahkan untuk bertanya pada yang ahli, sedangkan aku hanya baru jadi seorang pembelajar saja, belum bisa memberikan saran-saran yang valid.

Nah, pada yang demikian itu, ada pelajaran yang bisa dipetik. Pelajaran ini diperuntukkan 'mengambil hikmah' bukan untuk mengomentari persoalan di atas. 

Maka, bila ada yang berada pada status demikian, cobalah renungi kaidah-kaidah berikut yang kusarikan dari nasehat-nasehat guru untuk muridnya.

Kaidah yang dapat digunakan sebagai seorang perempuan dalam bersikap seharusnya:

1. Jangan mau diajak bicara tentang masa depan dengan orang lain yang belum selesai dengan masa lalu.

2. Tegaskan pada diri, kamu mulia dan layak diperjuangkan dengan cara yang mulia.

3. Tegaskan pada laki-laki, rencana dan langkah nyata dalam menuju pernikahan, Utamanya selesaikan dulu.

4. Jangan turuti nafsu untuk pacaran.

5. Jika kau ingin mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya, tempuhlah dengan cara yang lebih baik (tidak pacaran) memang lebih berat, tapi hadiahnya juga insyaallah ketenangan luar biasa juga keberkahan setelahnya. 

6. Jika laki-laki serius dan mengerti, maka ia akan rela berjuang, dan mengusahakan dengan cara yang benar, bukan sembunyi-sembunyi, apalagi mengajakmu kesana kemari tanpa ada status yang pasti. Tetap berhati - hati.

7. Jangan pakai hati, sebelum sah sebagai seorang suami istri.

8. Jangan terjebak dalam kenikmatan sementara, hingga mengorbankan kehidupan jangka panjang.

9. Laki-laki akan selalu punya cara untuk meluluhkan hati perempuan, karena memang itu tabiatnya, maka perempuan tegaslah pada perasaanmu sendiri. Minta tolong pada RabbMu.

Semoga Allah menjaga kita dalam naungan rahmatNya.

Rabu, 08 Januari 2025

Overthinking

[[Welcome to WIBO: Waktu Indonesia Bagian Overthinking]]

Maka, Mari berdamai dengan menuliskannya.

Goresan pena hitam pada takdir yang menyerta Insan, menampakkan pikir yang tak kunjung padam.
Menyeka puing2 kekuatan jiwa di relung kalbu yang kian beranjak menuju kepunahan.
Oh Tuhan..
Kemana hati ini berkecenderungan?
Pada cahaya kebenarankah?
Pada terangnya keadilankah?
Atau
Pada gelapnya hati melihat segala kemungkaran?
Pada tenangnya jiwa memandang kedzaliman?

Menahan fikir yang tak kunjung berakhir
Menjelma untaian mimpi yang belum sempat terukir
Terburu waktu yang terus bergulir
Daya juangku yang kian terpelintir,
Akan sampaikah waktu ini pada tetes terakhir?

Jauh sekali prasangka ini, seperti menenun kehampaan dalam jeratan luka yang sengaja dikaitkan pada tiap kenangnya.

Wahai, hentikanlah prasangkamu ini!
Fokuslah menghadapi benang merahnya.
Biarkan dirimu mengalun tenang, menyisiri badai prasangka dalam dirimu yang kian menantang.
Selamilah..
Pelajaran itu menunggumu diujung sana.
Lewatilah, pelajarilah.

Senin, 30 Desember 2024

YaAllah aku baper padaMu!


YaAllah!
Berjuta kali engkau tunjukkan tentang kemahaanMu,
Berjuta kali juga engkau kuatkan hati yang mulai merapuh,
YaAllah yaRabb, puisiku ini tidak ada apa-apanya untuk menggambarkan
Betapa indah mencintaimu.

Kau selalu meyakinkan dan membuktikan bahwa, 
Dibalik kesulitan, ada kemudahan
Dibalik kendala, ada kendaliMu
Pun, 

YaAllah, aku baper pada untaian skenariomu,
Engkau sungguh maha teliti, sedang aku ceroboh,
Engkau sungguh maha mengetaui, aku tidak,
Maka, kali ini, aku terus mengharap bagian indahmu ya Rabb.

Tuntun langkah ini agar semakin dekat denganMu, meski air mata jatuh dalam mencintaimu.

Ya Allah ya kariim, dunia ini hanya senda gurau, maka jadikanlah kami dan keluarga kami hamba yang engkau izinkan masuk ke Syurga sekeluarga. Aamiin


Minggu, 17 November 2024

Masa sih?


Seorang perempuan bercerita padaku, bahwa ia sedang dekat dengan seorang laki2 yang menurut dia 'paham agama'. 
Ia begitu senang, karena merasa ada yang bisa membimbing dirinya dalam menjalankan ibadah.
Lalu ku tanya, darimana kamu tahu bahwa dia paham agama?
Lalu dia Menjawab, Saat jalan bersamaku, di setiap waktu adzan, dia selalu mengajak ke masjid untuk shalat dulu.
GUBRAKKKK... 
Ku tanya lagi, apakah dia bersalaman denganmu? Dan dia menjawab ehm.. iya..
SPEECHLESS
🥲

Ini aku yang kurang paham atau emang beda standar aja ya?
Shalat 5 waktu itu bare minimum seorang Muslim gak sih? Itu engga jadi sesuatu yang bikin orang langsung bisa di cap 'paham agama' ya karena itu kewajiban. 

Dan lagi, mungkinkah seseorang yang katanya 'paham agama' itu, dia mengajak jalan yang bukan mahramnya? Berani menyalami lawan jenis yang bukan mahramnya?.

Menurutku ini jadi bare minimum orang dikatakan paham agama adalah ketika: Dia tidak bermudah-mudahan dengan lawan jenis. Boro-boro ngajak jalan,  chatting aja ga berani kalau bukan yang urgent atau ada keperluan, kenapa? ya karena takut sama Allah. Iya gak sih?

Sebuah pengingat untuk diriku, bahwa kepahaman agama' itu akan terlihat dari bagaimana ia mengambil keputusan juga sikap terhadap suatu masalah, akankah karepe dewek ataukah Memakai ilmu dalam menghadapi masalahnya. Cek juga, apa referensi yang ia pakai dalam memutuskan suatu perkara? apakah aturan Allah dan RasulNya, atau pemikiran2 di luar?.

Jika tujuan pendekatan adalah sesuatu yang mulia bernama pernikahan, maka jemputlah itu dengan cara yang mulia, sempurnakan berkahnya dengan penjagaan proses sebelum pernikahan.

Jangan bermudah-mudahan ya bestie, ingat, segala bentuk keberdua2an sebelum menikah yang membuatmu senang hanyalah ilusi. Bertahanlah sendiri dulu, untuk dapat merasakan keindahan yang hakiki, insyaallah.

Ighfirli ya Rabb.. yang masih kelu dalam menyampaikan ayat2mu, yang masih di level mengingkari dalam hati, bimbing ya Rabb agar dapat menasehati dengan cara yang tepat. 

Takut Salah

Diriku terheran, apakah benar begini prosesnya?

Apakah kau pernah menonton Boruto?
Di awal-awal kemunculannya, saya termasuk yang mengikuti anime Boruto (karena Naruto sudah tamat, dan saya merasa perlu mengikuti kisah anaknya, meski hanya episode awal2 saja).

Di suatu episode, terjadi pertemuan antara Mitsuki dan Boruto. Mitsuki merasa kagum dengan Boruto (install an dari orochimaru, Boruto dijadikan sumber inspirasi, kalau gak salah ya). Lalu, ketika beberapa kali bertemu, suatu hari Mitsuki meninggalkan Boruto, dia berpikir bahwa, Boruto adalah 'matahari' baginya, maka akan berbahaya jika terlalu dekat, akhirnya Mitsuki memilih untuk menjaga jarak, agar tetap dapat melihat Boruto tanpa terbakar atau silau dengan kemampuannya. Mitsuki memilih menjauh untuk menjaga dirinya.

Loh, tumben ngawalin tulisan pakai cerita ini? Ya mumpung lagi inget aja, maap maap 🙏🙏

Nah, sekarang saya sedang merasa di posisi menemukan sesuatu seperti 'matahari', maka yang saya lakukan adalah menjauh, menjaga jarak, membatasi interaksi, membatasi komunikasi, untuk menjaga agar hati saya tidak terbakar sebelum waktunya. 

Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah hati saya lebih tenang, karena masing-masing dari kami, sama-sama tidak mudah dalam memulai interaksi.
Lalu, bagaimana untuk tetap jaga kepercayaan?
Pakailah kaidah Jika bumi tak mampu menjadi perantara kami dalam merangkai kisah dengan kata-katanya, maka biarlah jalur langit yang akan menuntaskan kisah ini dengan berbagai kejutannya. Imanilah.

Sesekalinya interaksi, yang terasa adalah komunikasi yang kaku. Apakah jadi masalah? 
Dalam pandangan awam tentu iya, karena "kok gini amat".
Tapi bagi yang paham hakikat perkenalan tentu tidak. Karena pada masa perkenalan, bukanlah masa obral kata2 indah, bukan pula obral perhatian. Tapi masa mencari tahu karakter asli,  menjaga diri, menjaga hati, dari hal-hal yang Allah tidak sukai. 

Apakah berat? Berat. 
Tapi, tenanglah.. ini Dunia, insyaallah ada keringanan setelah keberatan.
Siapa yang menjamin?
Allah.

Jadi cukup ya, wahai diri. Fokus lagi dengan amanah di depan mata. Urusan masa depan, serahkan pada Allah saja. Tugasmu berusaha teguh di jalan yang benar, biar Allah yang berikan jalannya. 

Sabtu, 09 November 2024

Buya Hamka




 


Assalamu'alaikum, Halo semuanya.. apa kabar? Semoga baik ya :).

Kali ini saya akan berbagi perasaan tentang film buya hamka, karena saya bukan yang memiliki ilmu tentang perfilman, maka saya akan membuat review sebagai penonton awam. Nah, sebelum menonton film ini ada baiknya melihat trailer dan juga reviewnya di Youtube.

Official Trailer -> https://www.youtube.com/watch?v=fAQnkdaGisM

Review oleh Aby Kusdinar -> https://www.youtube.com/watch?v=CP905v1_Mk-

Film Buya Hamka adalah film yang disutradai oleh Fajar Bustomi dan rilis tanggal 19 April 2023 untuk volume pertamanya, karena film ini memiliki 3 volume yang membagi perjalanan Hidup seorang ulama dan tokoh perjuangan kemerdakaan Indonesia H. Abdul Malik Karim Amroellah serta biasa dikenal sebagai "Buya Hamka".

(Edit soon)


"Tak peduli bagaimana hasil akhirnya, yang jelas kita hanya dapat melakukan yang terbaik, biar Tuhan yang urus sisanya"

"Mengedapankan Akal itu baik, tapi ingatlah keterbatasan akal kita perlu dilengkapi oleh luasnya tawakal pada Allah SWT"

"Gak perlu overthinking akan hasil akhir usaha kita, sungguh itu sangat di luar kendali seorang manusia"

"Gagal itu sebuah kewajaran bagi seorang yang tawakal"

"Takut gagal itu wajar, tapi takut mencoba itu adalah musibah"

 

 

Rabu, 16 Oktober 2024

Kalau Saja Kita tak Mengingat Allah



Kalau saja kita tak ingat bahwa, ada Allah di atas segalanya, maka mungkin saja kita akan hancur oleh kekhawatiran dan kerancuan pikiran kita sendiri.

Kalau saja kita tak ingat 'petunjuk' hakiki dariNya, maka mungkin saja kita buta dan lupa arah dalam menentukan langkah.

Kalau saja kita tak ingat 'kisah teladan' yang telah Allah suguhkan dalam kitabNya, maka mungkin saja kita akan cepat menyerah dalam melihat realita-realita yang menyesakkan dada.

Makanan orang beriman di akhir zaman adalah "dzikir", ingat ada Allah. Langkah awal untuk mengingat adalah dengan mengenal.

Kebayang engga? Dengan kondisi negeri yang begini (semrawut), zaman yang semakin tua ini, kemungkaran dan kebodohan yang merajalela, ini adalah 'keadaan' dari Allah, dan ketika kita menjadi bagian dari rakyatnya, jadi bagian di dalamnya, maka, respon kita terhadap keadaan ini, nanti akan dihisab. Apakah kita berusaha untuk menjadi bagian dari solusi? Ataukah malah ternyata kita yang menjadi masalahnya.

Seorang Imam berkata "Yang menghambat manusia dari kemajuan itu bukanlah kebodohan, tapi kepuasannya terhadap ketidaktahuan"
Ayo, kepo, kepo ilmu. Ayo berlomba, lomba Amal shalih.
Semoga dengan ini, akan lahir sakinah dalam hati, karena hati telah memenuhi peran fitrahnya untuk menjadi Hamba Allah yang bermanfaat bagi lingkungannya.


Dan.. di atas segalanya, bersyukurlah jika Allah masih izinkan kita untuk mengingatNya.

#CelotehSebelumTidur #UraianOverthinking
#SehatSehatYaNegeriku
#AmbilBagianSesuaiKapasitas
#NaikanKapasitasAgarBerkualitas
#MendidikTidakMendadak
#JadiHambaBetulanBukanKebetulanJadiHamba



Jumat, 11 Oktober 2024

Stop perkawinan anak? Harusnya lebih giat menyuarakan #StopPerzinahanAnak sih



Dulu, aku adalah simpatisan feminis yang merasa sangat terganggu dengan adanya perkawinan usia dibawah 17 tahun.
Alasan 'awalnya' mungkin terlihat logis, ilmiah dan masuk akal. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, maka alasan2 tersebut hanyalah alasan berdasarkan 'perasaan' dan 'persangkaan' belaka.

Bahkan, kamu bisa membaca tulisan dengan tema #StopPerkawinanAnak di blog ini! Tentu, tulisannya masih menggunakan sudut pandang lama, yaitu sudut pandang sebelum mengenal Islam.
 
Serius, setelah mengenal Islam, saya merasa lebih tenang dan mudah menjalani hidup, karena segalanya sudah di atur secara sempurna. Apa yang membuat kita merasa ribet dalam menjalankannya adalah karena kita berusaha tidak taat. Cobalah taat dulu, InsyaAllah tenang dan mudah memandang persoalan hidup.

Nah... Back to topic,
(Akan segera di edit InsyaAllah, kalau sudah menemukan kalimat yg tepat dan selesai riset, intinya jangan lupa ngaji ya!)


Maka, jika kamu melihat kebaikan ada pada diriku, ketahuilah itu karena kesempurnaan syariat Islam. Dan jika kamu melihat keburukan dariku, maka itu murni kesalahanku yang tidak menerapkan syariat Islam dengan sempurna.

Kamis, 10 Oktober 2024

Berkata



2 orang asing ini terlihat sibuk dengan agendanya masing-masing, meski di akhir pekan.
Tapi, hebatnya Allah yang Maha pengatur, hari pertama kerja dijadikannya hari libur. 
Hari libur dalam rangka memperingati kelahiran sosok yang Agung, teladan seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Allahumma shalli wa Salim 'ala  Muhammad, shallu alaih.

Pagi itu, cuaca sejuk mengiringi hati yang berusaha tidak terketuk.
Memecah rasa, agar tak mengusir logika.
Hari itu, pertama kalinya, kita saling berkata, tidak banyak basa-basi langsung ke poin inti.
Bukan untuk membangun rasa, tapi untuk saling mengetahui isi kepala.

Satu persatu pertanyaan terjawab, 
satu persatu jawaban ditanya,
Kita pahami, diantara kita ada yang berbeda,
Tapi dengan 'kedewasaan' kita pahami bahwa itu adalah fitrah saja.

Tak terasa waktu berlalu, pertanyaan-pertanyaan dasar sudah terutarakan.
Pertanyaan lanjutan, biar di pending saja, InsyaAllah ada waktunya. 

Satu pertanyaan dalam diri,
Kenapa bisa, rasa percaya muncul begitu saja pada orang yang belum pernah bertemu langsung sebelumnya.

YaAllah, ini hal yang tidak biasa. Tapi, jika ini jalanMu, maka aku patuh. Aku hanya pemain dalam jalan ceritaMu. Maka, temani aku agar memainkan peran sesuai dengan petunjukMu.



"Ketika rasa percaya hadir mengudara tanpa tahu darimana, hanya ada dua alasan yang bisa menjawabnya, pertama itu adalah pesan dari Allah, kedua itu adalah harapan dari hati manusia. Bersyukurlah bila jawabannya alasan pertama, hati akan ridha apapun ketetapanNya. Berhati-hati lah bila jawabannya alasan kedua, karena hati akan kecewa bila tidak sesuai kehendaknya. Tawakal lah"
-ElKa



Cari Blog Ini